USKUP TUTU: RAKYAT PALESTINA HARUS MEMBAYAR HARGA HOLOCAUST
2009-08-29 17:04:35
kispa.org - Ramallah - Kepala uskup Afrika Selatan dan peraih nobel perdamaian, Desmond Tutu dalam wawancaranya dengan Koran harian Israel, Haaretz , Kamis (27/8) bahwa pelajaran yang diambil Israel dari Holocaust adalah keamanan tidak akan dapat diperoleh lewat pagar, dinding pembatas, dan senjata. Ia menegaskan bahwa rakyat Palestina harus membayar harga holocaust itu.
Mengomemtari statemen Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu di Jerman Pada Kamis yang mengatakan bahwa pelajaran dari peristiwa Holocaust adalah Israel harus selalu mempertahankan diri, Tutu berkomentar, ''Di Afrika Selatan (Afsel), mereka mencoba menciptakan keamanan lewat todongan senjata. Mereka tak pernah bisa aman. Keamanan itu baru didapatkan ketika hak asasi seluruh manusia diakui dan dihormati tanpa ada diskriminasi”.
Dalam wawancara di Al-Quds usai “kunjungan para ahli hikmah” ke Israel dan Tepi Barat Tutu mengisyaratkan, Barat memang merasa bersalah dan menyesal terhadap ''Israel'' atas peristiwa Holocaust, ''yang memang sudah seharusnya''. Namun siapa yang menanggung (dampaknya)? Dampaknya kini harus dibayar oleh bangsa Arab, dan oleh Palestina. Saya pernah bertemu seorang duta besar Jerman yang mengatakan bahwa Jerman bersalah atas dua hal. Pertama, adalah apa yang mereka lakukan terhadap kaum Yahudi (oleh Nazi, red). Dan kesalahan kini, adalah penderitaan bangsa Palestina.”
Tutu mengkritik organisasi-organisasi Yahudi di Amerika Serikat (AS) yang menurutnya, organisasi tersebut menanamkan intimidasi kepada siapa saja yang mengritik penjajahan dan anti Semit. Ia menambahkan bahwa organisasi Yahudi melakukan berbagai tekanan kepada universitas-universitas di AS untuk membatalkan kuliah Tutu di kampus mereka. Padahal tegasnya, pandangannya saya sendiri bersumber dari Taurat. Dimana Tuhan pasti berpihak kepada pihak yang tertekan dan dijajah, lanjut Tutu.
Tutu juga mengomentari seruan Profesor Neve Gordon dari Ben-Gurion University, Israel. Dalam tulisan opini di LA Times , Gordon mengkritik Israel sebagai negara apartheid. Gordon juga mendukung tekanan dunia internasional kepada Israel lewat boikot dan sanksi tertentu. Secara tidak langsung, Tutu mengisyaratkan bahwa adakalanya sanksi pun diperlukan.
Era Apharteid
Tutu menegaskan bahwa perlintasan-perlintasan yang dibangun Israel mengingatkan jaman Apharteid namun sekarang tidak di Afrika Selatan yang merupakan sanksi massal. Padahal saat itupun tidak ada penghancuran rumah dengan alasan anggota keluarganya diduga “teroris”.
Warga Balaen dan aktivis HAM mengingatkan kepada Tutu tentang Mahatma Gandi yang berhasil mengusir penjajah Inggris dari India dengan melakukan pemberontakan sipil dan tanpa kekerasan. Uskup menegaskan bahwa perjuangan pasti akan menang untuk kebebasan. Seperti kemenangan presiden Amerika pertama dari kulit hitam. (bn-bsyr/pic/fn)
Lainnya:
.SEORANG JAMA'AH UMRAH DARI GAZA MENINGGAL SAAT TAWAF DI KA'BAH
2009-08-29 16:46:55
.MENTERI WAKAF DAN URUSAN AGAMA PALESTINA SERUKAN SEMUA KHOTIB UNTUK MEMBAHAS MASALAH AL QUDS DALAM KHUTBAH JUM'ATNYA
2009-08-28 10:11:59
.PASUKAN ZIONIS ISRAEL SERBU DAN TUTUP RADIO BETHLEHEM 2000 DI BEIT JALA
2009-08-28 10:04:53
.RAMADHAN TAHUN INI BERTEPATAN DENGAN 40 TAHUN PEMBAKARAN MASJID AL AQSHA OLEH EKSTRIMIS YAHUDI
2009-08-27 15:06:47
.KOMITE BANTUAN PEMERINTAH BERIKAN BANTUAN SENILAI 108 DOLAR KEPADA FAKIR MISKIN DI SELURUH JALUR GAZA
2009-08-27 12:00:57





.jpg)








